Cerita : Rinka - Bagian 1

Angin yang Kencang


Senja telah menyelimuti kami. Angin berderu kencang. Burung-burung ikut berkicau. Ornamen yang terpasang di dinding rumah ikut bergerak mengikuti arah angin. Udara dingin mulai datang menghampiri. Langit sudah berwarna merah. Anak-anak mulai masuk ke rumahnya masing-masing. Tentu saja, mereka masuk karena takut akan amarah orang tua. Disini, anak-anak harus masuk rumah ketika langit mulai gelap. Kalau tidak, lihat saja nanti. Pasti akan ada teriakan memanggil-manggil yang memekakkan telinga. Itu pasti suara dari masing-masing ibu. Suaranya memang nyaring sekali. Hewan-hewan ternak juga sudah masuk ke kandangnya masing-masing. Mereka bergerak perlahan. Akhrinya ditutupnya pagar kandang itu dengan rapat.

Pohon kelapa itu sudah berbuah. Sekitar ada 5 buah kelapa disana. Aku hanya menatapnya saja. Tidak berniat untuk mengambilnya. Jendela tua itu kembali bergerak oleh angin. Berkali-kali benda itu menutup dan terbuka lagi. Maklum, jendela itu tidak bisa dikunci. Angin semakin kencang. Langit semakin gelap. Awan pun sudah berkumpul. Hujan segera turun membasahi apaun yang ada di bawahnya. Semua orang sudah berkumpul di rumahnya masing-masing.

Jendela rumah tidak bisa menahan kencangnya angin. Rambutku menjadi agak berantakan. Padahal aku baru saja merapihkannya. Aku merapihkan kembali rambutku dengan ikat rambut. Aku sebenarnya malas untuk melakukannya. Ikat rambut yang kugunakan sudah usang. Serasa ada yang nyangkut dan gatal ketika dipakai. Terpaksa aku menguncinya. Padahal untuk mlepasnya kembali akan sangat sulit. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya ikat rambut yang aku miliki.
Perkenalkan, namaku Rinka. Aku adalah seorang gadis yang berumur 13 tahun. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan kedua kakakku, dan kami berada di sebuah kampung yang tidak terlalu besar di daerah Jawa Tengah. Disini kami berada di dekat gunung.Dan udara di sini sangat sejuk dan segar. Kami juga masih bisa merasakan kicauan burung-burung. Rasanya enak sekali. Kondisi ini berbeda sekali dengan di kota. Walaupun berada di kampung, dengan kondisi berbukit -bukit. Kami masih bisa berkomunikasi dengan orang di luar sana. Seperti pekan lalu, aku menghubungi Nenek Fera yang ada di Sumatera. Hebat kan!

Tak lama, rintik hujan pun turun. Deras sekali. Suara derasnya hujan sampai-sampai kami sulit mendengar. Entah itu mendengar radio atau sedang berbincang. Mbak Resti menyiapkan teh panas untuk kami. Saat hujan seperti ini memang tepat untuk meminum secangkir teh panas. Aku terus memandang keluar. Hujan itu membanjiri halaman kami. Sangat deras memang. Halilintar bersahut-sahutan. Sepertinya hujan akan berlangsung lama. Aku segera menyeruput teh panas yang ada di depanku. Acara di televisi yang sedang ditonton oleh kami sekeluarga menjadi kabur. Ya, antena goyang akibat angin yang sangat kuat. Kami pun bubar. Akhirnya kami hanya berkumpul saja di ruang tengah.

“Duh hujannya deres banget nih. Jadi gak bisa nonton kan
“Ya gapapa dong. Sekali-kali ga nonton TV kan bagus hehe
“Jadi bosen gini ya.”

Malam itu kami hanya mengobrol saja di rumah. Hujan yang deras dan adanya petir yang bersahut-sahutan membuat kami diam di rumah. Aku sendiri sedikit kesal akan adanya hujan. Karena hujan itu aku tidak bisa menonton TV. Karena pada waktu itu ada tayagan kesukaan kami. Waktu itu, sedang ada pertandingan sepakbola. Dikarenakan cuaca yang tidak mendukung, akhirnya kami menuju kamar masing-masing dan merebahkan diri ke tempat tidur

Comments

Post a Comment

Popular Posts