Cerita : Rinka - Bagian 2
Petak Umpet
Pagi hari yang sepi dan sunyi. Tidak ada sesuatu yang istimewa pagi ini. Hanya burung-burung yang saling bersiulan. Angin berhembus pelan. Mentari mulai menyinari kampung kami. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan segera menuju meja makan untuk sarapan. Ibu sudah menyiapkan sesuatu di atas meja makan. Secangkir teh manis menjadi pelengkap untuk sarapan pagi ini. Langit hari ini cerah. Cukup baik untuk memulai hari di akhir pekan. Dan hari ini aku akan melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama teman-temanku. Aku segera menghabiskan teh dan sarapan. Cukup untuk mengisi perut yang telah kosong akan nutrisi.
“Bu, Aku pergi dulu ya!
“Kemana Rin?
“Main sama temen-temen, Bu”
Hari ini memang hari libur. Jadi aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan. Aku langsung memakai sendal dan keluar rumah menuju lapangan. Di sini, suasananya tidak terlalu sepi juga. Angin berhembus tidak terlalu kencang. Aku berlari dengan cepat sekali untuk menemui mereka. Hari ini aku akan melakukan sesuatu yang baru. Aku sendiri pun belum tahu akan bermain apa. Yang penting aku ingin main hari ini. Sebelumnya aku telah melaksanan ujian sekolah. Melepas penat dari pelajaran sekolah yang cukup berat. Biasanya saat hari libur, banyak orang yang berkumpul di lapangan kampung kami. Ada yang bermain bola dan ada juga yang sedang bermain merpati.
Akhirnya aku sampai di sana. Ramai sekali. Aku akhirnya bertemu dengan mereka. Di sana ada Yoga, Nur, Bagas, Pra, dan Fira. Kami merupakan teman satu sekolah. Dan karena rumah kami berdekatan, kami jadi sering main bersama-sama. Temanku yang bernama Yoga ini orangnya cenderung gemuk. Jelas saja. Dia itu orangnya apa saja dilahap. Lalu, ada Nur. Kurasa dia ini orangnya paling cerdik diantara kami. Dan dia juga orangnya sedikit pemalu. Ada Bagas dan Pra. Mereka berdua ini sudah seperti satu paket. Mereka selalu muncul berdua. Dan yang terakhir, yaitu Fira. Fira ini orangnya suka membuat kami tertawa dengan hal apa saja. Dan ia juga merupakan orang pandai bercerita sesuatu. Aku dan teman-temanku sangatlah kompak. Kami tak pernah terpisah. Kami selalu bersama-sama. Dan kami juga suka berpetualang bersama.
Aku ingin memberitahu kepada kalian. Aku ingin memberitahu tempat yang paling jauh kami kunjungi. Tempat terjauh yang pernah kami kunjungi adalah hutan yang terletak ujung barat daya kampung kami. Aku mengambil beberapa buah jambu di sana. Dan menyimpan semua bijinya di saku celanaku. Sedangkan Nur dan Fira sedang mengamati burung yang meiliki bulu warna-warni. Hewan bersayap itu sedang menjaga telur-telurnya di sarang yang ada di dahan pohon. Burung itu terlihat sangat menjaga keadaan di sekelilingnya. Bagas sedang mencoba ikan di sungai yang ada di dekat tepi hutan dengan tangannya. Ikan itu memiliki sisik yang licin sekali. Berkali-kali ia coba tetap saja ikan itu melompat kembali ke dalam air. Lalu, Yoga berusaha memanjat pohon mangga. Tentu saja, ia ingin mengambil buah itu. Namun, tak lama ia kembali merosot ke bawah. Batang pohon itu licin. Pra yang ada di bawahnya hampir tertindih olehnya. Aku yang melihatnya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku mereka berdua.
“Yog, hati-hati dong. Liat nih! Aku hampir ketiban sama kamu tau!” kata Pra dengan nada kesal.
“Iya maafin dong Pra. Aku juga kan ga liat” jawab Yoga.
“Makanya kalian tuh hati-hati kalo main” kataku menasihati mereka berdua.
Aku meneriaki mereka berdua. Mereka bisa saja terluka. Kami bermain cukup lama di sana. Bisa-bisa aku dimarahi oleh ibu jika pulang ketika azan magrib tiba. Aku dengan teman-teman yang lain berlari kembali menuju kampung. Burung-burung terbang diatas kami. Menuju sarangnya masing-masing. Angin juga menunjukkan langit malam akan tiba. Semakin malam, angin akan semakin kencang. Aku berlari secepat mungkin, secepat angin itu mengibas rambutku.
Seperti dugaanku, tak lama setelah itu langit telah berwarna merah menuju gelap. Hari itu menunjukkan malam hari akan segera tiba. Hingga kami pun pulang pada saat azan magrib tiba. Aku sudah mengira bahwa aku akan dimarahi oleh ibu. Perasaanku sudah tidak enak sejak tadi. Aku menyesal berada di hutan itu terlalu lama. Aku sendiri masih menyesal hingga saat ini. Terlalu lama aku ada di sana. Sesampainya di rumah, ibu sudah berada di beranda rumah. Terlihat dari raut wajahnya ia sudah emosi. Aku sendiri pun bersiap menerima amarah ibu akibat hal itu.
“Kamu kemana aja Rin?” tanyanya dengan nada datar.
“Aku ke hutan yang ada di ujung kampung, Bu”
“Itukan jauh banget lho. Bahaya itu Rinka. Kalo ada apa-apa gimana? Kan nanti ga ada yang tau”
“Aku kan cobain main ke sana aja” jawabku dengan sedikit menunduk ke bawah. Aku tidak berani menatapnya.
“Tapi kan mainnya sampe malem. Lain kali gaboleh gitu lagi ya!. Kakakmu aja dua-duanya ga pernah kayak gini. Cuma kamu doang yang kayak gini. Dah masuk rumah sana! Mandi terus abis itu solat” kata-kata yang diucapkan oleh ibu tadi masih membekas hingga kini. Sejak saat itu, aku tidak lagi mendekati hutan yang terletak di ujung kampung kami. Itulah pengalamanku saat pergi ke hutan yang ada di ujung kampung kami.
Ketika bertemu dengan mereka, kami bingung ingin bermain permainan apa. Mungkin hari ini kami memustuskan untuk bermain petak umpet. Permainan ini sebenarnya cukup bosan dimainkan. Karena kami pun juga sudah sering bermain ini. Tapi, daripada tidak bermain sama sekali. Lebih baik kami melakukan permainan ini.
“Kita mau main petak umpet lagi? Bosen tau. Kita kan bukan anak SD lagi. Udah sering banget kita main ginian” tanyaku kepada mereka.
“Iya lah. Emang mau main apa lagi? Main bola kamu kan gak bisa.” kata Bagas dengan wajah meledek.
“Kata siapa ?”
“Bukannya emang gitu ya? Kenyatannya gitu kan Rin. Kamu nendang bola kemaren hampir kena jendela Pak Dirman” Pra menambahkan perkataan Bagas tadi.
“Itukan gara-gara ada angin. Kalian kan tau sendiri kalo pas waktu itu, anginnya kenceng banget.”
“Ya udah deh, gimana kamu aja. Yang penting kata aku sih, kamu gabisa main bola Rin”
Ya begitulah, teman-temanku yang laki-laki memang meremehkan kemampuanku bermain bola. Padahal orang-orang di keluargaku merupakan orang yang termasuk bisa bermain sepak bola. Dari mulai buyut hingga bapakku, semuanya bisa bermain bola. Bahkan untuk seorang diriku yang merupakan seorang perempuan. Aku masih bisa melakukan hal-hal dasar tentang permainan itu. Menurutku sendiri, bermain bola itu bisa dimainkan oleh siapapun. Tidak peduli entah siapa yang memainkannya. Selama kita bisa menikmati permainan itu, aku yakin kita semua pasti larut dalam keceriaan sendiri. Betul kan? Aku juga berharap agar suatu saat nanti ada klub sepak bola wanita. Boleh kan ? Sejujurnya, aku tidak suka diremehkan oleh orang lain. Apapun yang mereka anggap remeh terhadap diriku, harus aku tunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa! Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku melakukannya.
***
Orang lain menganggapku sedikit aneh. Bukan aneh tepatnya, melainkan sedikit berbeda dari perempuan yang lain. Ya. Aku berbeda daripada seorang anak perempuan yang lain. Dimana anak perempuan biasanya lebih pendiam dan biasa berada di rumah. Aku tidak bisa seperti itu. Aku tidak tahan jika harus tetap berada di rumah. Terkekang di rumah sendiri. Seperti burung yang berada di sangkarnya atau seekor singa yang tinggal di dalam jeruji besi. Aku tidak bisa seperti itu. Aku berusaha menjadi gadis yang lincah. Gadis yang tidak hanya bisa bersih-bersih rumah. Tapi juga bisa melakukan hal di luar sana. Kakakku saja hanya ingin menjadi perempuan yang biasa saja atau bisa dibilang pendiam dan tidak banyak tingkah.
***
“Kamu ketauan!” Yoga menepuk pundak Bagas. Walau badannya yang gemuk, ia sangat jeli melihat sesuatu.
“Cepet banget sih dapetnya”
“Kamu aja yang sembunyinya payah banget.”
“Yaudah yuk cari yang lain dimana.”
Mereka berdua akhrinya mencari kami yang belum ketahuan. Ada yang sembunyi dibawah pohon. Ada juga yang sembunyi dibalik gerobak tukang mie ayam.
“Heh! Kamu lagi ngapain disini?” tegur Mas Karyo. Ia merupakan tukang mie ayam satu-satunya di kampung kami. Dan mie ayamnya juga paling lezat di sini.
“Hehe ndak mas. Aku lagi sembunyi dari temen-temenku.”
“Oh lagi main petak umpen ya?”
“Iya mas. Jangan kasih tau siapa-siapa ya mas. Ya mas ya…”
“Tapi kamu harus bayar utangmu ke saya dulu oke. Utang kamu yang 2 minggu lalu juga belum dibayar.”
“Siap mas. Pokoknya semua nanti aku bayar.” Pram biasa memang membeli mie ayam Mas Karyo.
Biasa dihutangi juga mie ayam Mas Karyo. Dia orangnya memang seperti itu.
Setelah sekian lama mencari, tinggal Nur yang belum ditemukan. Nur orangnya memang cerdik. Jadi, pasti ia sembunyi di tempat yang tidak biasa. Aku mencari dekat warung Bu Ida tidak ada. Bagas dan Yoga mencari sekitar pohon pisang. Sedangkan Fira mencari di sekitar semak-semak. Kami semua gagal menemukan dia. Padahal kami sangat tahu tempat-tempat yang kami biasa sembunyi. Bisa saja dia pulang ke rumahnya tanpa memberitahu kami. Itu tidak biasa. Dan hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Atau mungikin Nur sembunyi di tempat yang baru? Itu mungkin saja. Tapi Nur orangnya tidak seperti itu. Kami selalu sembunyi di tempat biasa. Itu pasti. Hal itu agar kami tidak bingung mencari satu sama lain. Tapi kali ini berbeda. Karena dia tidak dapat kami temukan.
“NUR!!! KAMU DIMANA?” kami berteriak memanggil namanya dimana-mana. Sudah hampir satu jam kami mencari. Hari sudah mulai siang. Kami belum bisa menemukan Nur. Sudah mengelilingi lapangan dan juga mencari sekitar lapangan. Kami mulai khawatir kepadanya.
Comments
Post a Comment