CERITA : RINKA - BAGIAN 3
Sendal Merah
Kami sudah
putus asa dan memutuskan pergi ke rumahnya. Rumahnya terletak di dekat rumahku.
Rumahnya hanya beda sekitar 3 rumah. Jadi, aku tahu betul tentang dia. Hanya
butuh beberapa menit saja untuk sampai di rumahnya.
“Assalamualaikum…”
kami serempak memberi salam.
“Waalaikumsalam,
ya ada apa?” Pintu rumah terbuka. Ternyata ibu Nur datang membuka pintu dan
menjawab salam kami.
“Ada Nur ga
tante?” tanya Fira kepada ibunya Nur.
“Iya, soalnya
tadi pas main dia tiba-tiba gak ada” aku ikut menambahkan pertanyaan Fira tadi.
“Wah masa
sih?! Dia belum pulang kesini kok.”
“Tante tau
dia kemana gak?”
“Tadi
bilangnya cuma mau main ke lapangan doang sih. Kok jadi khawatir gini ya. Ya
sudah, mungkin dia pergi ke tempat lain kali. Bisa aja dia gak kasih tau kalian
kemana dia pergi. Dia juga kadang-kadang suka gitu kok.”
“Hai semua.
Loh kok pada ngumpul disini? Ini mainnya udah selesai atau gimana?”tiba-tiba
Nur datang menghampiri kami.
“Lah kita tuh
nyariin kamu tau!”
“Iya bener.
Kita jadi was-was nih.”
“Kok kamu gak
ngasih tau kemana kamu pergi sih?”
“Bentar
bentar, pelan-pelan dong. Satu satu ngomonya. Biar aku dengernya jelas. Jadi
aku tuh pas lagi maen tadi, ga sengaja nemu kertas. Aku jadi penasaran kan. Aku
baca aja tuh kertasnya. Nih kertasnya masih aku bawa.” Nur pun membacakan isi
kertas itu di hadapan kami.
BAGI
YANG MENEMUKAN KERTAS INI HARAP KEMBALIKAN KE ALAMAT BERIKUT:
Jl.
Tejo Mulyo IV No. 12
AKAN
SANGAT BERTERIMAKASIH BILA YANG MENEMUKAN BILA MENGEMBALIKAN KERTAS INI KEPADA
ALAMAT TERSEBUT
-A-
“Terus dibalik kertas itu ada puisi bagus, terus…”
belum selesai ia berbicara, ibunya lalu memotong perkataannya.
“Terus kamu nyamperin ke sana Nur? Iya?” nada dari ibu
Nur menjadi sedikit tegas.
“Bentar bu. Dengerin dulu. Jadi pas aku mau baca
baliknya. Ada orang yang samperin aku. Orang itu minta kertas yang aku pegang.
Terus dia ngajak aku rumahnya.”
“Terus gimana? Kamu ngapain disana Nur?” Fira yang
tadi hanya menyimak mendadak bertanya kepada Nur. Sebelum dijawab, kami
dipersilahkan masuk ke dalam rumah dan hari juga semakin panas. Di situ kami
duduk di lantai sambil mendengar cerita dari Nur.
“Orang itu perempuan, kayaknya sih dia mahasiswa gitu.
Dia kayaknya lagi ada tugas praktek, makanya dia dateng ke sini. Oh ya, terus
aku dikasih selembar kertas, isinya puisi bagus.” Nur pun memperlihatkan isi
kertas itu. Isinya seperti ini.
Apakabar Pagi ?
Hijau daun
pinus
Runtuh jatuh
ke tanah yang basah
Saat hembusan
nafasmu yang halus
Menghentak
seantero lembah
Sungai
mengalirkan tangismu bagai bah
Menggerus
kegembiraan
Menghanyutkan
cerah
Menghantarkan
kesedihan
Tanganmu
terjulur dengan mulut terkatup
Menolak
tetesan air yang jatuh dari langit
Jantungmu
nyaris enggan berdegup
Berat batu
dan beton sombong menghimpit
-Untuk Nur
yang sudah berbaik hati
Orang itu
sepertinya baik sekali. Dia memberikan Nur sebuah puisi. Kertas yang
dikembalikan oleh Nur, ternyata adalah kertas berupa laporan yang dikerjakan
oleh perempuan. Oleh karena itu, kertas itu menjadi sangat penting baginya. Ada
hal menarik lainnya, esok harinya perempuan itu tiba-tiba datang ke rumah Nur.
Kebetulan sekali, aku dan Fira sedang ada di rumah Nur. Tak tahu mengapa, aku
merasa ada hal yang berbeda sejak kedatangan mahasiswi itu. Ia seperti memiliki
pesona yang indah. Dan perempuan itu seperti mengingatkanku kepada sesuatu.
“Halo,
selamat pagi. Ini rumah Nur kan?” perempuan itu berparas cantik. Ia memakai
kacamata dan mengenakan kerudung warna krem. Dengan balutan baju lengan panjang
berwarna merah muda dan garis-garis putih dan juga memakai rok yang panjang
berwarna merah jambu.
Tak banyak
yang kubisa ceritakan. Ia datang untuk berterima kasih kepada Nur, karena sudah
mengembalikan kertas itu. Kami pun mengobrol bersama di halaman depan. Aku
senang bisa mengobrol dengannya. Dan hari ini kebetulan merupakan hari terakhir
dia di kampung ini. Dan lucunya, ia memiliki satu hal yang sama denganku. Kami
sama-sama menyukai klub sepak bola yang sama.
“Oh ya, kalau
kamu hobinya apa Rin?”
“Aku pas
kecil suka liat kakak sama bapak nonton bola, jadi aja aku suka sepak bola.”
“Kalau gitu,
kita sama dong. Aku suka klub Liverpool. Kamu tau gak Rin?
“Wah kita
sama dong kak. Aku juga suka sama Liverpool”
Comments
Post a Comment