CERITA : RINKA - BAGIAN 4

 

Kalah Bertaruh

 

Lima tahun lalu. Angin kemarau berhembus pelan. Anak-anak bermain layangan. Saudara-saudara yang lain berada di rumah. Aku bersama Bapak menonton pertandingan sepak bola. Pada saat itu, ada pertadingan antara Liverpool dan Barcelona. Aku menyaksikannya dengan antusias. Aku sendiri mendukung Liverpool, dan aku bersebrangan pilihan dengan bapak. Dan aku membuat kesepakatan dengan bapak waktu itu. Jika tim pilihanku menang waktu itu, maka bapak akan mengajariku cara bermain bola. Dan jika kalah, maka aku akan bersih-bersih rumah selama satu bulan. Suatu hal yang sangat tidak mengenakkan bagiku. Tentu saja, hal ini didukug penuh oleh saudara-saudara dan ibu. Sedikit menyesal mengambil keputusan itu. Mengapa pula aku bertaruh seperti itu. Karena jika aku kalah, aku akan menanggungnya sendiri.

“Gol !!!” itu merupakan teriakan dari sang komentator. Ya, itu merupakan sebuah gol. Dan gol itu membuat skor yang tadinya masih berbentuk kacamata, berubah bentuk menjadi bentuk lain. Dan ternyata gol itu ternyata untuk tim lawan. Aku sangat terkejut akan hal itu. Peluang untuk bermain bola menjadi semakin kecil. Aku semakin tertekan. Bagaimana jika tim yang aku dukung akan kalah. Aku tidak berharap banyak gara-gara gol tersebut. Bapak tertawa terbahak-bahak ketika komentator berteriak. Semacam meledekku. Tentu saja, ia semakin yakin bahwa timnya akan menang. Wajar saja, karena tim yang bapak dukung memang bagus. Tim tersebut telah memenangkan piala liga sebanyak 3 tahun berturut-turut. Tim itu juga merupakan salah satu tim sepak bola yang terbaik di Eropa sana. Tetapi, tim pilihanku juga merupakan tim besar. Hanya saja, saat ini sedang mengalami masalah sedikit. Mungkin para pemain yang saat ini tengah emosional. Atau saja strategi yang digunakan salah. Aku kurang tau sih, tapi aku tau pasti ada masalah. Dan itu benar saja. Barcelona memenangkan pertandingan itu dengan skor 1-0. Aku sedih sekali saat itu. Akhirnya pertaruhan ini dimenangkan oleh bapak. Dan lagi, ia tertawa hingga ludahnya bercipratan ke arahku. Saking kerasnya, suara itu bisa terdengar hingga halaman rumah. Penjual mie ayam yang berada di depan rumah pun hingga menoleh ketika sedang menghidangkan makanannya kepada tetangga sebelah. Wajahku cemberut karena ledekannya. Rasa kesal tentu ada. Aku harus menerima apapun yang terjadi. Satu bulan membersihkan rumah. Menyebalkan? Sangat.

Aku sangat sangat kesal waktu itu. Dan memang itulah nasibku. Harus dijalani walaupun pahit. Banyak hal yang kita inginkan, tetapi realita seringkali tidak sesuai dengan ekpektasi kita. Aku duduk termenung di teras depan rumah. Masih memikirkan hal yang tadi. Tapi tak apa. Dunia belum berakhir. Toh, aku bisa menambah pengalamanku dalam hal beres-beres rumah. Ya kan?

Esok harinya, bapak duduk di sampingku di meja makan. Aku yang sedang menyantap pisang goreng buatan ibu langsung menoleh. Ia lalu menyeruput kopi hitam yang pahitnya luar biasa. Bapak memang seperti itu. Ia duduk sambil membaca koran yang baru saja dilempar oleh Mas Eka. Mas Eka adalah seorang kurir surat kabar. Dan setiap pagi sebelum jam 6 pagi, koran selalu ada di teras rumah. Tak biasanya, bapak baca koran di meja makan. Biasanya, ia baca koran di teras rumah atau di ruang tengah. Jadi aku agak bingung ketika ia duduk di sampingku.

“Rin, bersih-bersih ya nanti?” tanyanya sambil menyeruput secangkir kopi hitam itu.

“Eh iya”

“Bapak tau kok kalo kamu tuh sebel kan. Itu pasti. Soalnya kalo kamu mau tau, dua kakakmu pernah kayak gini juga. Makanya pas mereka tau kalo kamu harus kerja kayak gini, mereka senyum-senyum seneng.”

“Wah? Beneran tuh?” aku menjawab dengan heran.

“Suutt, jangan keras-keras. Ini rahasia lho.”

“Oh oke oke.”

“Jadi, bapak giniin kalian semua tuh, biar gak tidur-tiduran mulu di rumah. Biar kalian semua tuh mandiri kesananya. Tuh liat aja contohnya. Mbakmu tuh, Resti. Sekarang kan dia bisa macem-macem. Jadi kita di rumah ga usah pake pembantu segala kayak orang lain. Iya kan? Buat apa gitu. Nah, bapak nih kasih gini gini juga ada manfaat buat kedepan Rin. Kamu harusnya udah tau.”

“Iya pak, aku ngerti kok. Tapi kan Liverpool kalah hm.”

“Ya ga apa apa. Yang penting tim sepak bola bapak menang.” jawabnya dengan tawa.

Akhirnya kami berdua melanjutkan obrolan hingga sarapanku habis. Menyenangkan sebetulnya, bila kita jalani dengan ikhlas. Bapak benar. Semua pasti ada manfaatnya dan semua juga pasti ada hikmahnya. Aku senang dengan perbincangan anatara aku dengan bapak. Hal itu membuat aku menjadi semangat mengerjakan pekerjaanku itu.

 

 

 

Bab 5

 

 

Pekerjaan Telah Usai

 

Satu bulan berlalu. Akhirnya bisa lebih bebas di rumah. Sangat lelah dan penat. Aku merebahkan diri di tempat tidur sejenak. Sepertinya aku tidak akan lagi bertaruh dengan bapak. Ini sudah berkali-kali aku gagal dalam pertaruhan. Ini memang nasibku yang sedang buruk saja. Hal yang bulan lalu terjadi menjadi terakhir kali aku bertaruh. Sudah semestinya klub bola kesukannku kalah. Dibalik ini semua, aku memetik hikmah yang terjadi. Aku jadi tidak santai terus-terusan di rumah. Aku jadi bisa membereskan semua ruangan di rumah. Mulai dari ruang tengah, ruang tamu, kamar tidur, hingga dapur. Semua ruangan menjadi bersih dan rapih. Semua tempat menjadi enak untuk dilihat. Aku mendapat bimbingan dari ibu tentunya. Sedangkan kedua kakakku terkadang suka meledekku tidap kali mereka lewat dihadapanku. Kerap kali aku kesal dengan mereka berdua. Aku juga membersihkan halaman. Halaman rumah yang semula kotor dan berantakan, menjadi sangat rapih. Aku juga menata pot-pot tanaman di sekitar halaman. Di halaman rumah jadi ada beberapan tanaman baru. Aku yang menanamnya sendiri. Seperti bunga mawar dan bunga melati. Dan juga ada pohon jeruk yang berukuran kecil. Pohon jeruk itu diletakkan di pot yang berukuran cukup besar dan terbuat dari besi. Setelah itu aku memberinya pupuk kandang yang asalnya dari kotoran sapi. Setelah itu aku siram, supaya antara pupuk dengan tanahnya sedikit lebih menyatu dan membuatnya basah. Juga agar pohon jeruk yang kutanam bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Tak lama, aku keluar kamar untuk mandi. Aku yang biasanya malas mandi, jadi lebih semangat. Akhir-akhir ini aku jadi terbiasa dengan hal ini. Sekarang bukanlah hal yang membosankan apalagi menjadi hal yang menyebalkan. Ya, semua ada hikmahnya memang. Rumah jadi rapih, semuanya jadi senang. Aku merasa bersyukur bisa mengerjakan pekerjaan itu pada akhirnya.

Besok paginya, aku duduk di meja makan. Mumpung hari ini masih libur sekolah, aku mencoba untuk memasak sarapan sendiri. Kali ini aku mencoba untuk membuat nasi goreng kali ini. Nasi goreng yang aku buat harus berbeda dari yang biasa ibu dan mba Resti buat. Tiba-tiba saja Mas Kusno datang ke dapur dan mengambil secangkir gelas teh kecil dan juga piring dan sendoknya. Seperti biasa, ia membuat teh manis panas dan dua potong roti selai coklat. Itu sudah cukup untuk membuatnya kenyang.

“Loh Rin, kamu bikin apaan tuh? Itu nasi goreng ya? Kok tumben-tumbenan bikin nasi goreng. Biasanya jarang buat kan Rin?” tanyanya dengan heran.

“Iya ini nasi goreng. Ya aku lagi pengen aja bikin ini. Abis bosen kalo bikin yang gitu-gitu aja. Apalagi kalo masih dibikinin sama ibu. Kalo udah bisa bikin, ya bikin sendiri aja, gak usah nunggu dibikin sama ibu.”

“Wah bagus dong itu. Pasti gara gara kemaren itu yah?”

“Ya gak dong. Aku liat kalo ibu lagi masak nasi goreng aja tiap pagi. Aku juga sekarang suka bantuin ibu kok.”

Lalu Mas Kusno pergi ke ruang tengah untuk sarapan sambil menonton televisi. Aku pun melanjutkan  membuat nasi goreng di dapur. Aku membuat nasi goreng yang berbeda dari buatan ibu. Setelah melihat-lihat seperti apa cara membuatnya, aku mencoba resep buatanku sendiri. Aku mencoba menggunakan bawang putih, bawang merah, dan bawang daun menjadi satu. Dan aku menggunakan potongan ayam suwir. Pada akhirnya aku berhasil membuat resepku sendiri. Wangi nasi gorengnya sangat harum sekali. Apalagi bau bawangnya, sangat harum. Aku sangat senang sekali. Aku langsung membawa nasi goreng itu ke meja makan dan menambahkan bawang goreng serta kerupuk. Ketika aku cicipi, rasanya terlalu asin. Tapi, menurutku rasanya masih enak. Maklum, aku sedang mencoba resep baru. Setelah itu, aku kembali ke dapur dan mencuci segala peralatan memasak yang aku gunakan. Aku sangat senang hari ini. Mencoba hal yang baru. Hari yang sangat hebat!

Comments

Popular Posts