CERITA : RINKA - BAGIAN 7
Berandai-andai
Apakah kalian pernah terpikirkan
sebelumnya, jika ada seorang anak kecil yang bisa melakukan hal yang melampaui
pada anak seumurannya alias tidak biasa? Pasti pernah. Itu merupakan keinginan
semua orang. Aku dan teman-temanku juga berpikiran demikian. Kami pernah
berandai, jika kami memang memiliki hal itu. Lucu sekali. Bagaimana jika aku
bisa melompat sangat tinggi. Atau Nur yang ingin bisa berlari dengan sangat
cepat. Atau mungin Yoga yang bisa memakan makanan sebanyak yang dia inginkan
hingga perutnya sangat penuh. Ya, kami masih suka berpikiran
seperti anak TK. Kami semua dulu menginginkan hal semacam itu. Tapi hal itu memang
sangat tidak mungkin untuk terjadi di dunia nyata. Itu hanya berlaku di
imajinasi kita saja. Manusia memang selalu menginginkan lebih atas
apa yang diterima olehnya. Terkadang kita memang kurang bersyukur atas apa yang
terjadi pada diri kita sendiri. Yang sering ialah memaki keadaan di
sekelilingnya atau bahkan memaki dirinya sendiri. Suatu hal yang seharusnya tidak
boleh kita lakukan.
Aku seringkali merenung dan menyesali segala
perbuatanku. Dan tentu saja, seperti apa yang serigkali orang lain lakukan.
Kita seringkali perbuatan yang sama lagi. Padahal, kita tahu bahwa itu tidak
benar. Seharusnya dengan adanya hal seperti itu, kita menjadi lebih baik. Lebih
tepatnya, menjadi lebih dewasa. Dengan evaluasi diri kita terhadap apa yang
kita perbuat, kita sudah selangkah lebih dewasa dibandingkan dengan orang lain.
Dengan kesalahan itu, kita suka menghayal atau berandai-andai. Berandai-andai
itu boleh saja. Asal jangan terlalu tinggi. Asal jangan terlalu aneh. Orang
bilang bahwa “mimpilah setinggi langit”, dan yang kita sering tidak tahu adalah
langit yang kita impikan setinggi apa? Apakah kita mampu? Apakah kita bisa
mencapai mimpi yang kita inginkan itu? Aku bermimpi bisa menjadi seorang
pesepakbola wanita. Terkesan aneh? Tentu saja. Kedua orang tuaku tidak
mengizinkan aku seperti itu. Aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama. Aku
berulang kali telah cepat menyerah dikala orang lain sedang berusaha dengan
begitu keras. Kalah sebelum bertarung. Lelah sebelum bekerja. Boleh saja aku
berandai, dengan catatan aku pasti bisa menggapainya. Kali ini aku pasti bisa.
Liburan kali ini memberi aku suatu pelajaran yang sangat amat berharga. Sekali
lagi, bapak benar. Bahwa semuanya itu ada manfaat dan ada hikmahnya. Aku bisa
saja tidak mendengar perkataannya. Tapi, setelah kujalani semua yang dikatannya
selalu benar. Itulah orang tua. Ibu juga sama. Ia mengatakan bahwa aku akan menjadi
orang yang sukses, jika aku melakukan satu hal yang amat penting. Yaitu turuti
orang tua. Itu saja, tidak banyak-banyak perkataan dari ibu. Dari sini aku
belajar, menjadi pribadi yang lebih baik tidak semudah yang dikira. Namun, itu
tidak susah jika dijalani dengan ikhlas kalau kata bapak. Dengan bekal-bekal
itulah aku menjalani hidupku dan inilah ceritaku.
Comments
Post a Comment